Malaikat Tanpa Sayap (2012)

 

Tidak dapat dipungkiri, alasan pertama untuk menyaksikan Malaikat Tanpa Sayap adalah kehadiran Maudy Ayunda sebagai pemeran utama film ini. Selain itu, adanya nama Rako Prijanto sebagai sutradara juga meningkatkan impresi awal bahwa Malaikat Tanpa Sayap merupakan salah satu film sahih Indonesia. Dalam tiga tahun belakangan, karya-karya seperti Perempuan-Perempuan Liar (2011), Penganten Sunat (2010), dan Preman In Love (2009) juga telah mengangkat nama Rako sebgai penulis naskah yang cukup sahih dan jangan dilupakan bahwa film drama romansa remaja Indonesia yang sangat legendaris Ada Apa Dengan Cinta (2001) adalah karya Rako juga sebagai penulis naskah. Tidak hanya itu, sebagai sutradara dia pernah menghantarkan Merah Itu Cinta (2007) dan Ungu Violet (2005) sebagai film romantis yang berhasil dan unggul akan dialog-dialog puitisnya, walaupun masih terdapat banyak kekurangan didalamnya. Sehingga tidak aneh bila Malaikat Tanpa Sayap menjadi satu karya Rako sebagai film drama romantis yang sangat mampu menyentuh penontonnya.

 

Di bawah arahan Titien Wattimena – peraih nominasi FFI dengan tiga karyanya seperti Minggu Pagi di Victoria (2010), Tentang Dia (2005) dan Mengejar Matahari (2004) – mampu membuat penulisan naskah cerita Malaikat Tanpa Sayap oleh Anggoro Saronto – penulis naskah Setan Facebook (2010) dan Miracle (2007) – jauh meningkat dibandingkan dua karya sebelumnya. Ditambah arahan Rako Prijanto yang terkenal akan dialog-dialog puitis menyentuh dalam karyanya, Malaikat Tanpa Sayap akan berhasil membuat penontonnya jatuh cinta dengan film ini, walaupun alur cerita cukup dapat ditebak dari awal, namun mampu menghadirkan momen-momen menyentuh dalam luasnya lingkup cerita.

 

Awal kisah Malaikat Tanpa Sayap, menampilkan deretan adegan beratnya suatu kehidupan yang berfokus pada karakter Vino (Adipati Dolken), seorang remaja yang memiliki hubungan yang kurang dekat dengan keluarganya, khususnya setelah ayahnya, Amir (Surya Saputra), mengalami kebangkrutan sehingga membuat keluarganya semakin berantakan setelah istrinya, Mirna (Kinaryosih), memilih untuk meninggalkan dirinya dan kedua anaknya, Vino dan Wina (Geccha Qheagaveta) yang masih berusia lima tahun. Latar keluarga yang berantakan tersebut kemudian membuat Vino menjadi remaja yang skeptis dan lebih banyak menyendiri serta menutup dirinya dari kehidupan luar. Semakin berat, ketika Wina mengalami sebuah kecelakaan yang mengharuskan kakiknya diamputasi jika tidak segera dioperasi, disini Vino menjadi peduli dan  memberikan perhatian besar kepada adiknya. Ia bahkan rela untuk menjual organ dalamnya kepada seorang calo organ tubuh (Agus Kuncoro) agar dapat membiayai pelaksanaan operasi Wina. Di saat yang sama, Vino kemudian berkenalan dengan Mura (Maudy Ayunda), yang secara perlahan, mulai mengubah sikap Vino yang skeptis menjadi seseorang yang lebih memperhatikan orang-orang yang berada di sekitar lingkungannya. Perkenalan itu kemudian juga membuat Vino mengubah pemikirannya tentang pendonoran jantungnya, yang akhirnya justru membuat Vino dikejar-kejar oleh calo organ tubuh dan menghadirkan konflik saat mengetahui kenyataan dari calo organ tubuh tersebut.

 

Sekilas, Malaikat Tanpa Sayap masih mengikuti tren penceritaan film romantis dengan menggunakan latar belakang kematian yang memang sedang begitu banyakdieksploitasi oleh banyak pembuat film Indonesia untuk menghasilkan momen sentimental kepada para penontonnya. Namun, untungnya, Rako Prijanto berhasil mengeksekusi jalan cerita Malaikat Tanpa Sayap secara alami, tanpa pernah membuat film ini terasa memaksa agar penontonnya menangis ketika menyaksikan kisahnya. Disinilah Malaikat Tanpa Sayap berhasil tampil sahih dibandingkan film-film sejenis yang sedang banyak diproduksi di Indonesia. Sayangnya, Anggoro Santoro juga seperti kebingungan untuk memilihkanakhir cerita yang layak bagi dua karakter utamanya. Hasilnya, naskah cerita Malaikat Tanpa Sayap justru kemudian menghadirkan sebuah twist cerita yang justru merusak seluruh momen melankolis yang telah terbentuk semenjak film ini bergulir. Twist yang dihadirkan sangat lemah, mudah ditebak, sangat kebetulan dan merusak tatanan akhir cerita yang seharusnya mampu tampil klimaks dalam penyampaian emosi ceritanya.

 

Dari akting para pemerannya, Maudy Ayunda dan Surya Saputra mampu menghidupkan karakternya dengan baik sekaligus memberikan berbagai sentuhan emosi yang tepat di saat karakter yang mereka mainkan memang membutuhkannya. Meskipun Agus Kuncoro dan Kinaryosih relatif mendapatkan porsi peran yang sangat sedikit dibandingkan kemampuan mereka di dalam film ini, juga Adipati Dolken masih terasa kurang mampu mengeluarkan emosinya di beberapa adegan, namun secara keseluruhan, akting pemeran Malaikat Tanpa Sayap tampil memuaskan.

 

Jalan cerita Malaikat Tanpa Sayap bukan sebuah struktur cerita baru dan  memanfaatkan momen-momen kematian untuk menyajikan kisah romantis yang menyentuh pada penontonnya. Namun dalam 120 menit berjalannya film, Rako Prijanto mampu menghadirkan momen-momen biasa tersebut secara alami, tidak pernah memaksa penontonnya untuk merasa tersentuh dengan kisah yang dihadirkan dan menyajikannya dengan begitu ringan namun tetap berisi dan emosional, ditambah lagi Rako berhasil memanfaatkan keindahan lagu Malaikat Juga Tahu milik Dewi Lestari dan menempatkan lagu tersebut pada momen paling krusial di dalam jalan cerita film yang menjadikan Malaikat Tanpa Sayap berhasil tampil begitu romantis, melankolis dan menyentuh secara natural, meskipun twist di akhir cerita film ini sangat lemah, mudah ditebak, dan mengada-ada.

  1. hadiana-k posted this